Minggu, 11 November 2012

POTRET PENDIDIKAN INDONESIA



Perkenalkan nama saya Naufal, saya baru saja lulus dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri jenjang Diploma III di daerah Depok Jawa Barat. Membahaas tentang pendidikan di Indonesia pasti akan sangat panjang, mulai dari hal-hal yang baik sampai hal-hal yang tidak enak didengar semua terjadi di negeri ini. Pendidikan menurut saya adalah komponen terpenting dalam terwujudnya bangsa yang maju, tanpa kualitas dan sarana pendidikan yang baik dan bermutu negara ini akan tetap seperti ini, sulit untuk ada perubahan. Suatu saat saya pernah menyaksikan sebuah acara televisi yang membahas tentang presiden Amerika terpilih Barack Obama, sepeti diketahui bahwa presiden Barack Obama pernah besar di Indonesia. Hal yang mengelitik sekaligus miris untuk saya adalah ketika seorang reporter menanyakan Indonesia kepada pejalan-pejalan kaki di Washington, D.C. ternyata ada beberapa warga disana yang tidak tahu ada negara bernama Indonesia. Saya pun berfikir bahwa apa yang dilakukan Indonesia saat ini  masih kurang cukup untuk membawa nama Indonesia besar di dunia Internasional.

Amerika, negara yang dikenal sebagai kiblat perekonomian dunia, mulai dari mata uang sampai perusahaan-perusahaan besar milik mereka yang sudah sangat terkenal di dunia seperti General Motors, Exxon Mobil, Disney (The Walt Disney Company), Microsoft , Apple Computer sampai mesin pencari yang sering kita gunakan Google. Jepang, negara yang dikenal dengan kultur dan kebudayaan masyarakatnya, keindahan alamnya yang mampu dikelola dengan baik sampai perusahaan-perusahaan mereka yang terkenal seperti dalam industri otomotif  yang kita kenal nama-namanya seperti Honda, Toyota, Daihatsu, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki, semua merek tersebutlah yang berlalu lalang di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Sekarang beralih ke Negara tetangga Singapura dan Malaysia. Singapura, negara yang dikenal dengan luas wilayah yang kecil, bahkan tidak lebih besar dari luas wilayah DKI Jakarta. Luasnya yang kecil tidak membuat negara ini terlihat kecil di dunia Internasional, semua orang pasti mengetahui Singapura. Negara ini memiliki perekonomian yang baik bahkan dengan luas wilayahnya yang kecil itu Singapura cukup komplit disebut negara, mereka punya pusat permainan Universal Studio Singapore, kebun binatang, Air Port, lapangan sepak bola, sampai circuit Formula 1. Malaysia, negara yang dikenal sebagai “musuh abadi” Indonesia, tidak seperti itu juga memang, tetapi kenyataan memang beberapa kali Indonesai sempat berselesih dengan negara tetangga ini, mulai dari batas wilayah, kekayaan budaya, kasus penganiayaan TKI, hingga lapanagn hijau sepak bola. Dibalik itu semua Malaysia adalah Negara yang cukup maju. Siapa yang tidak kenal Petronas, perusahaan minyak dan gas milik Malaysia ini cukup terkenal di dunia dan selalu mensponsori ajang otomotif  Internasional seperti Formula 1 dan Moto GP. Tidak hanya Petronas saja, Proton barikan mobil buatan Malaysia ini sudah mundar-mandir di jalanan Indonesia.


Indonesia saat ini tidak terlalu buruk, tetapi bertahan dengan kondisi yang saat ini adalah petaka. Bila selalu melihat ke negara-negara levelnya di bawah Indonesia, negara ini tidak akan pernah maju. Lihatlah Negara-negara maju lainnya, lihatlah negara-negara tetangga yang sudah jauh lebih mapan dibandingkan Indonesia saat ini. Negara yang masih suka berselisih dengan saudaranya, negara yang masih suka menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan, negara yang orang-orangnya maih mementingkan kepentingan kelompok dan individu ketimbang negaranya. Belajar lah dari negara-negara lain, bagaimana mereka mampu menciptakan orang-orang yang pintar dan cerdas, tidak hanya otaknya tetapi juga hatinya, meski pun hanya untuk negarinya sendiri. Lihatlah bagaimana negara-negara tersebut mampu memberdayakan masyarakatnya dan seluruh potensi negaranya. Pendidikan adalah faktor penting, jadi harus diperhatikan dengan sangat. Saya bangga menjadi orang Indonesia, oleh karena itu saya ingin yang terbaik untuk Indonesia.

Tidak Sekolah dan Putus Sekolah

Masih banyak anak-anak negeri ini yang tidak bisa bersekolah. Banyak faktor penyebab, mulai dari tidak adanya sarana pendidikan, tidak punya biaya sampai faktor-faktor lingkungan yang membuat seorang anak tidak bisa bersekoalah. Sarana pendidikan yang kurang, masih ada daerah daerah yang tidak memiliki bangunan sekolah dan kalau pun ada terkadang aksesnya sangat sulit, untuk kasus ini nanti akan dibahas lebih mendalam.

Tidak ada biaya untuk sekolah, kalimat yang cukup miris sekaligus memalukan di Indonesia. Di satu sisi ada orang-orang yang sangat sulit hidupnya, bagaimana untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja sudah sulit. Banyak program sekolah gratis, tapi akhirnya bayar-bayar juga. Banyak bantuan untuk sekolah, tapi bayaran tetap mahal. Yang menjadi perhatian saya adalah, memang angka kemiskinan di negara ini masih tinggi, tetapi jumlah orang kaya di negeri ini juga cukup banyak. Andai saja mereka mengerti keadaan negaranya saat ini, dan merelakan sebagian rejekinya untuk pendidikan Indonesia, saya rasa seluruh anak Indonesia bisa bersekolah. Ternyata menjadi orang pintar dan cerdas untuk menjadi orang yang kaya tidak cukup bukan?, Diperlukan hati yang lapang, dan rasanya kurikulum pendidikan pun harus dikaji ulang kembali, agar bisa lebih jelas untuk apa menjadi orang yang pintar dan cerdas, untuk yang ini lebih baik nanti dibahas tersendiri.

Faktor-faktor lingkungan ternyata bisa membuat anak tidak mau sekolah dan putus sekolah. Banyak faktornya dan semua bisa kita rasakan. Mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan teman-teman. Semua memnag saling terkait satu sama lain, misalnya saja lingkungan keluarga, karena hidup dari keluarga yang miskin, orang tua lebih memilih anaknya untuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Ada juga yang meresa kalau pendidikan dirasa kurang penting, contohnya saja di daerah-daerah, masih ada orang tua yang berpendapat kalau anak perempuan akhirnya akan tetap berada di dapur, jadi tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Baru lulus SMP sudah disuruh menikah, lalu bagaimana dengan anaknya nanti, bukankah ibu yang mengurus anaknya sehingga segala pengetahuan dan informasi dari seorang ibu diperlukan untuk perkembangan anaknya. Walhasil siklus ini pun akan terus berulang, sehingga perlu penanaman informasi tentang pendidikan yang lebih.

Contoh kasus masyarakat, masih ada kelompok-kelompok masyarakat yang tidak terlalu mementingkan pendidikan, hal ini biasa terjadi di daerah-daerah pedalaman. Perlu ada tim-tim yang dibuat khusus untuk maslah ini, saat ini sudah cukup banyak tim-tim yang memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan dan bahkan memberikan pendidikan untuk wilayah terpencil, tetapi jumlah itu masih kurang dari cukup, dan saya melihat justru hal tersebut lebih banyak dilakukan orang organisasi-organisasi dan LSM, sedikit sekali campur tangan pemerintah di sana, jadi perlu tindakan dari pemerintah untuk hal ini. Berikutnya adalah faktor teman, untuk yang satu ini tidak perlu contoh yang jauh-jauh, ada beberapa teman saya yang putus sekolah karena teman-teman sepergaulannya lebih suka main dan nongkrong-nongkrong. Pada awalnya sering bolos, merasa hal yang dia lakukan lebih nyaman bila dibandingkan sekolah, pada akhirnya dia lebih memilih untuk  tidak sekolah. Itu tandanya, perlu adanya penanaman pentingnya pendidikan sejak dini dan fasilitas sekolah yang baik agar pelajar lebih menyukai pendidikan dan sekolahnya dibandingkan hanya bermain. Cukup sampai disini dulu agar tidak terlalu panjang, lanjut ke poin selanjutnya.

Sarana dan Prasarana yang Kurang Mendukung
  • Tidak ada Sekolah
Saya adalah orang yang suka membaca dan menonton berita, ternyata masih ada daerah-daerah di Indonesia yang belum memiliki sekolah. Daerah-daerah tersebut bisanya ada di daerah terpencil dan kalau pun ada sekolah aksesnya sangat sulit, ada yang harus berjalan tanpa alas kaki ke sekolah karena dalam perjalanan harus melewati sungai yang belum ada jembatannya, ada pula yang harus naik kendaraan 3 jam untuk sampai di sekolah. Ini harus menjadi perhatian yang sangat oleh semua pihak terutama oleh pemerintah, karena seluruh masyarakat Indonesia berhak umtuk mendapatkan pendidikan yang layak. 
  • Sekolah yang Tidak Layak
Berapa banyak diantara pembaca yang pernah menyaksikan sekolah roboh dan sekolah tak layak untuk belajar. Jawabannya pasti banyak, walhasil para pelajar pun harus bergantian kelas, diliburkan untuk sementara waktu sampai harus belajar di kandang hewan. Sudah jatuh tertimpa tengga lalu kejatuhan genteng, mungkin itu pribahasa tepat yang bisa menggambarkan situasi di lapangan. Sekolah sudah rusak, akhirnya proses belajar terganggu, minta bantuan malah dipersulit. Pengajuan perbaikan sudah diajukan 2 tahun lalu tapi belum ada tindakan. Weleh weleh apa yang sebenarnya terjadi. Perlu ada tindakan semua pihak terkait untuk maslah ini, bukan hanya kegiatan belajar mengajar yang jadi terlantar, tetapi juga menyangkut maslah nyawa, karena sangat berbahaya bagi keselamatan.


  • Fasilitas yang Kurang Memadai
Pelajaran komputer, tidak pernah pegang komputer karena di sekolah tidak ada komputer. Pelajaran biologi belum pernah sama sekali pegang mikroskop, karena sekolah tidak punya dan labolatoriumnya pun tidak ada. Masih banyak lagi, mungkin salah satu pembaca adalah orang yang pernah mengalami hal ini, atau pernah melihat hal ini. Di lapangan hal ini memang terjadi, dan saya adalah salah satu korbannya. Itu contoh dalam kegiatan belajar, dalam hal lain seperti kamar kecil dan sarana ibadah. Bagaimana mungkin sekolah dengan jumlah siswa lebih dari 600 orang hanya memiliki 4 kamar kecil, bahkan bisa dibilang keadaaannya jauh dari layak. Akibatnya kalau mau ke kamar kecil harus mengantri walau pun dalam keadaan darurat. Lalu bagai mana mungkin sebuah sekolah dengan jumlah murid lebih dari 600 orang dangan 95% beragama Islam, hanya memiliki tempat ibadah 3 x 6 meter, walhasil untuk sholat saja harus mengantri di selah-selah waktu istirahat yang sangat sempit. Hal di atas adalah pengalaman saya, dan hal itu sangat tidak mengenakan. Segala dinas terkait harus memperhatikan hal-hal seperti ini, entah itu dinas pendidikan dan pihak sekolah. bukan hanya diperhatikan tetapi harus ada tindakan nyata untuk memperbaiki permasalahan-permasalahan ini.
Tenaga Pengajar

Tenaga pengajar sering dipermasalahkan, meurut saya pribadi ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita semua.
  • Tenaga Pengajar Malas
Saat ini banyak tenaga pengajar yang malas, malas datang tepat waktu sampai malas untuk masuk sekolah. Masuk kelas, “buka LKS halaman 20 dan 21, kerjakan!”, setelah itu sang guru duduk di depan kelas sembari mata melihat ke telepon genggam atau langsung keluar untuk kembali ke ruangannya. Sikap dan kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi siswa siswi saat ini. Masuk kelas, buka laptop, nyalakan infocus, jelaskan pelajaran, setelah selesai pelajaran bisa di copy ke flashdisk. Saat menjelaskan banyak yang mengantuk bahkan tertidur, tidak sedikit juga yang tidak mengerti apa yang dijelaskan. Hal tersebut berulang ke kelas lain dan terus terjadi setiap pekannya. Mungkin ada diantara pembaca yang mengalami hal tersebut. Ini memang kenyataan, guru-guru saat ini sudah mulai malas mengajar, bersemangat ketika akan ambil gaji. Tapi jangan salah, ada juga guru yang tetap rajin, mengecek muridnya satu persatu, mulai dari tugas sampai pakaiannya, mau menjelaskan sambil menulis di papan tulis, masuk sebelum bel masuk berbunyi dan keluar setelah bel istirahat berbunyi. Tenaga pengajar sekarang banyak yang malas, walau pun sebagian orang melihat hal ini adalah masalah yang kecil, tapi saya yang mengalaminya merasa imbasnya sangat besar. Jadi tolong bagi sekala pihak yang terkait dan seluruh tenaga pengajar di Indonesia untuk lebih memperhatikan hal ini, jangan salahkan murid yang malas bila guru-gurunya saja malas. Berikanlah contoh yang baik.
  • Penyiksaan Guru Terhadap Murid
Topik ini selalu hangat diperbincangkan, saya berfikir hal ini sudah keterlaluan. Ada guru kelas IV SDN Pati yang menusukan paku panas ke tangan muridnya karena tidak mengerjakan tugas, itu kan keterlaluan. Kita sering mendengar dan melihat kejadian-kejadian serupa seperti hal diatas. Bagaimana mungkin seorang guru mampu menganiaya muridnya. Guru-guru seperti ini patut diberikan sanksi tegas. Tidak sampai disitu, bahkan ada juga guru yang memperkosa anak didiknya. Seberutal itu kah pengajar saat ini. Sanksi berat wajib diberikan bagi guru-guru yang tidak bermoral ini.
Sedikit mengenyampingkan kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid, kali ini saya akan membahas dari segi positifnya. Terkadang murid dan orang tua sekarang terlalu berlebihan menyikapi masalah, misalnya saja ada murid yang dihukum berdiri dilapangan karena berkelahi dengan temannya, sang murid tidak terima dan mengadukannya kepada orang tua. Orang tua murid kemudian melaporkan sang guru ke pihak sekolah. Hal ini terkadang juga saya temui, menurut saya hal yang dilakukan sang guru adalah hal yang wajar, karena untuk pendidikan si anak dan hukumannya pun tidak terlalu berlebihan, yang seharusnya introspeksi adalah orang tua yang kurang kompeten mengajar anaknya. Untuk para orang tua yang membaca tulisan ini, mohon anaknya dibimbing lagi agar anaknya tidak dihukum karena melakukan kesalahan, bukan serta merta langsung menyalahkan guru yang memberikan hukuman.
  • Kurang Memahami Pelajaran yang Diajar
Untuk kasus ini, saya merasa bahwa masih ada guru atau pengajar yang kurang kompetensi dibidang pelajaran yang diajarkan. Selama saya bersekolah, ada guru-guru yang kurang paham apa yang dia ajarkan kepada murid-muridnya. Beberapa kali murid-murid bertanya, ada jawaban-jawaban yang dirasa kurang pas atau melenceng dari pertanyaan yang diajukan. Bagaimana mungkin murid bisa mengerti pelajaran kalau pengajarnya saja kurang paham apa yang diajarkannya. Kalau guru mengajarkan hal yang salah, maka hal yang salah itu akan menjadi benar bagi murid yang diajarkannya, dan itu akan terus tertanam sampai suatu saat sang murid mendapatkan kebenaran yang sebenarnya. Saran saya adalah, bagi pihak sekolah untuk menempatkan guru-guru dipelajaran yang dikuasainya, bila tidak ada yang cocok alangkah lebih baik untuk tidak menjadi pengajar, bisa saja diletakan di bagian administrasi dan lain-lain, karena kasihan murid-muridnya nanti.
  • Kurang Inovasi Dalam Memberikan Pelajaran
Ada guru yang cara mengajarnya monoton, kurang inovasi dalam mengajar. Membuat murid jadi kurang memahami apa yang diajarkan dan cepat mengantuk. Jadi perlu pembekalan kepada guru-guru agar bisa menciptakan suasana belajar yang sehat, sesuai dengan pelajaran yang diajarkan. Selama saya bersekolah ada guru yang seperti ini, mulai dari SD sampai dengan bangku perkuliahan, sehingga suasana belajar mengajar dirasa kurang mengasyikan. Mereka seperti asyik mengajar diri mereka sendiri ketimbang murid-muridnya, tanpa mempedulikan murid yang diajarkan mengerti atau tidak. Memang ini juga tergantung karakter masing-masing pengajar. Walau pun begitu saya tetap berharap kepada guru atau pengajar untuk lebih aktif dalam mengajar, saling berinteraksi dengan murid, sehingga murid-murid bisa lebih paham. Para pembaca, percaya atau tidak, kemampuan murid menyerap pelajarannya tergantung guru yang mengajarkannya.
  • Gaji Tenaga Pengajar yang Rendah
Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Kalimat ini bukan berarti guru harus digaji rendah, guru bukanlah malaikat, mereka juga punya anak dan istri yang harus diberi makan dan diberikan pendidikan pula. Dikota-kota besar mungkin gaji guru sudah cukup lumayan dengan segala biaya hidup yang juga tidak murah, tetapi sedikit bergeser dari wilayah kota besar, gaji guru jarang diperhatikan. Saya merasa gaji guru masih kurang, apa lagi gaji guru honorer yang bahkan jauh dibawah pendapatan seorang pengemis. “Semurah itu kah guru saat ini?”, mereka adalah orang-orang yang melahirkan manusia-manusia cerdas negeri ini. Bagaimana mungkin guru punya semangat belajar yang lebih kalau seperti ini. Saya himbau bagi pemerintah dan pihak sekolah, lebih memperhatikan hal ini, bukan hanya diperhatikan, tapi perlu ada tindakan nyata. Naikanlah gaji guru dan sejahterakan kehidupan mereka.
Pemberdayaan Kekayaan Bangsa

Angka kemiskinan yang masih tinggi tidak berarti negara ini tidak kaya. Banyak orang-orang di Indonesia yang kaya. Lantas dimana mereka, apa yang telah mereka lakukan untuk negeri ini, untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Kembali saya katakana bahwa pintar saja tidak cukup. Perlu kebesaran hati. Selama saya menjalani pendidikan, pelajar disuruh belajar untuk menjadi orang yang pintar, dengan kepintaran yang dimiliki kita bisa mencari uang dan menjadi orang kaya. Kurang sekali penanaman-penanaman tentang berbagi dengan sesama sejak dini. Kalau sudah besar untuk merubah itu sulit, semua bisa dimulai sejak sekolah dasar, mungkin ada mata pelajaran yang membahas hal ini atau setidaknya ada bab yang diselipkan pada salah satu mata pelajarannya. orang kaya dan miskin di negeri ini begitu kontras, mungkinkah ada yang salah dengan pendidikannya. Saya akui memang, perlu ada kerjasama dari semua pihak seperti orang tua dan keluarga, tapi andai saja orang tuanya dulu mendapatkan pemahaman yang baik ketika mengenyam pendidikan, saya rasa hal ini bisa diminimalisir.




Tidak hanya orang-orangnya, tetapi juga kekayaan lain yang dimiliki negeri ini, seperti barang tambang, seni budaya, potensi bahari, kesuburan tanahnya dan lain-lain. Lihatlah, bangsa ini masih kurang pintar dan cerdas mengolah dan memanfaatkannya. Justru potensi-potensi ini lebih dilirik oleh orang luar negeri. Di Indonesia banyak orang pintar, banyak pakar ekonomi, banyak pakar hukum, imluan-ilmuannya juga banyak. Sering sekali kalau ada Olimpiade matematika, fisika dan lain-lain, Indonesia dapat mencetak juara-juara, kemana mereka semua?. Saya mengajak bagi seluruh bangsa Indonesia, mari kita berdayakan seluruh potensi kekayaan negri ini, untuk bangsa Indonesia. Masa sih negara kaya masih miskin, masih ada yang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya uang.

Sedikit mengulik orang-orang pintar negara ini, terkadang benyak orang-orang pintar Indonesia yang malah meninggalkan negaranya lantaran negara tidak bisa memfasilitasi. Walhasil benyak orang Indonesia yang justru lebih melilih ke luar negeri untuk belajar, meneliti dan bekerja. Memang benar, disana mereka justru bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan karena fasilitas yang baik dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahnya dan bisa lebih sukses disana. Sudah banyak ko contohnya, kalau pembaca sering baca berita dan menonton acara-acara televisi pasti sudah tahu semua. Mereka bisa menjadi orang besar di sana. Indonesia, apa sebenarnya yang negara ini inginkan. Jadi bagi pemerintah, mohon diperhatikan lagi masalah ini, karena mereka adalah aset negara yang mahal. Kalau semua orang pintar pergi dari negeri ini, tambah bodoh saja Indonesia.

Kurikulum Pembelajaran

Dalam hal kurikulum ada beberapa hal yang ingin saya angkat, masalah pertama yaitu kekerasan di lingkungan pelajar, seperti kekerasan antar teman, tawuran antar pelajar sampai adanya kelompok-kelompok kekerasan atau istilahnya geng. Pendidikan karakter masih kurang, siswa lebih dituntut untuk mendapatkan nilai yang bagus sedangkan prilaku mereka tidak terlalu diperhatikan. Memang tidak salah juga, karena kelulusan mereka berdasarkan nilai yang mereka dapatkan.

Pembelajaran karakter sangat penting, pembelajaran agama harus diperbanyak, tidak hanya yang tertulis di jadwal pelajaran, tetapi kegiatan di luar pembelajaran juga penting. Ekstrakulikuler harus diwajibkan dan lebih beragam, agar siswa lebih banyak beraktifitas di sekolah dan sekolah pun jadi bisa memantau dan tentunya jadi lebih bermanfaat untuk para siswanya. Itu faktor internal, faktor eksternal lainnya seperti keluarga, teman dan tayangan-tayangan televisi yang banyak mempertontonkan kekerasan juga sangat berpengaruh.

Hal yang ingin saya bahas selanjutnya yaitu kerja, “kerja, kerja dan kerja”, pemahaman ini lah yang ditanam oleh pendidikan saat ini. seolah-olah kita mengenyam pendidikan hanya untuk bekerja. Walhasil banyak orang-orang Indonesia yang menjadi pekerja di negaranya sendiri, sedangkan atasannya orang luar. Sangat sedikit sekali jumlah pengusaha di Indonesia. Perlu ada mata pelajaran khusus tentang wirausaha sejak dibangku sekolah, seperti SMA, SMK dan sederajat, di tingkat pendidikan ini perlu ada pemahaman tentang hal tersebut.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, bila kurang mohon ditambahkan, bila ada yang salah mohon dimafkan. Disini saya hanya berbagi pengalaman dan uneg-uneg saya selama ini. Mudah-mudahan pemerintah, orang tua, siswa siswi dan seluruh warga Indonesia membaca tulisan saya ini. Inagat, semua saling terkait, jadi perlu kerjasama. Saya igin negara Indonesia besar, besar dengan kebaikannya, bukan dengan keburukannya.
Terimakasih